Review film bagus akhir tahun : Bulan Terbelah di Langit Amerika




Di akhir tahun 2015 ini banyak kita menemukan film-film bagus yang rasanya pengen ditonton semua. Dari film bergenre comedy bang Raditya Dika, petualangan seru Star Wars, Action-comedy dari Skakmat, dan banyak genre lainnya yang bakalan buat moviemania penasaran dengan alur ceritanya. Nggak terkecuali film yang satu ini : Bulan terbelah di langit Amerika.

Film yang diangkat dari novel best-seller karya mbak Hanum Salsabiela ini kembali mengingatkan kita dengan tragedi WTC 11 September yang menurut saya telah memberikan kita banyak pelajaran dan suatu pandangan dunia terhadap Islam yang sangat menggugah setiap pikiran. Pandangan ini semula berbentuk pertanyaan yang juga merupakan icon inti film ini yaitu "Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?" dan di Film inilah di urai satu per satu jawaban dari pertanyaan itu. 

Di awal pemutaran dijelaskan suatu adegan seorang penduduk Amerika muslim bernama Ibrahim Hussein yang tengah merayakan ulang tahun anak tunggalnya bersama istrinya Azima. Ibrahim yang dipanggil Abe ini lalu mendapatkan sebuah paket dari tanah timur tengah yang entah apa isinya. Sehari berlalu, Abe pergi ke menara kembar WTC untuk menjalankan sebuah misi yang mengundang curiga istrinya. Tepat hari itu kabar menara itu hancur akibat penabrakan pesawat secara sengaja dan ledakan bom dari bawah begitu ramai. Dan sejak saat itu lah, kaum muslim dianggap sebagai pelaku pengeboman menara tersebut. Setiap wanita yang mengenakan hijab mendapatkan perilaku diskrimanasi seperti yang dialami Hanum dan Azima. 

Sepanjang film ini dikisahkan bagaimana usaha Hanum dan Rangga dalam mengejar seorang narasumber yang berbeda namun akan terlihat keterkaitannya satu sama lain dari segi aspek yang mereka angkat. Tidak hanya melulu usaha mereka berdua, keseharian mereka sebagai sepasang suami istri yang tak lepas dari pertengkaran pun dihadirkan. Begitupun dengan kisah seorang teman Rangga yakni Stefan yang memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan Rangga. Seorang Stefan yang sering berdebat dengan Rangga perihal Islam dan masalah dirinya dengan kekasihnya (Jasmine) yang hubungannya tak pernah naik jenjang sehingga Jasmine merasa selalu digantungkan. 

Secara lebih dalam saya nggak akan menceritakannnya mendetail karena nanti pastinya gak bakalan seru kalo diceritain duluan *mwehehe* Intinya sepanjang film ini banyak sekali kalimat-kalimat yang buat saya tersentuh lalu sedikit nangis karena satu per satu kejadian dalam cerita adalah menjawab pertanyaan menggugah itu. Yang jelas diakhir-akhir dijelaskan oleh seseorang yang berhasil selamat dari tragedi WTC yang juga merupakan tokoh yang dianggap begitu penting oleh dunia perekonomian dunia dan dirinya yang membenci Islam. Seseorang tersebut menjawab satu pertanyaan tersebut dan saya anggap bagian ini adalah kesimpulan dari segala kejadian sebelumnya. Jawabannya adalah dunia tidak akan lebih baik tanpa islam. Kenapa ia menjawab seperti itu padahal sebelumnya membenci Islam? Penasaran? Nah, langsung aja  mampir ke bioskop terdekat untuk lihat lebih lengkapnya.

Dan yang paling saya ingat dari film ini adalah bagaimana Islam tidak mengajarkan kita untuk saling menyakiti satu sama lain, bahkan kita diajarkan untuk saling menyayangi meskipun dengan mereka yang berbeda keyakinan. 
Dijamin nggak akan nyesel nonton film ini. Meskipun saya termasuk orang yang nggak baca novelnya tapi langsung nonton filmnya, tapi bagi saya ini adalah karya terbaik mbak Hanum Salsabiela setelah 99 Cahaya di Langit Eropa. Dan saya rasa upaya mbak Hanum dan mas Rangga dalam hal berdakwah melalui buku dan film telah berhasil.

Sekarang, saatnya kalian yang belum lihat film ini untuk cepet-cepet ke sana, biar penasarannya nggak kelamaan.. Film ini Highly Recomended, yeay!